Sabtu, 31 Oktober 2015

Pasang Hastag ini itu



Trend Melalui Tagar (Hastag)



BAB I



Pendahuluan



1. Latar Belakang

Diera sekarang ini siapa yang tak mengenal dan tak mempunyai akun media sosial? Hampir seluruh masyarakat dipenjuru bumi ini mempunyai akun media sosial . Media sosial adalah sebuah media online yang penggunanya dapat saling bertukar informasi dan dapat berhubungan dengan orang lain. Dalam berbagi informasi dengan orang lain, diinformasi tersebut dapat ditambahkan sebuah tanda untuk memudahkan orang lain dalam mencari informasi. Tanda tersebut adalah sebuah tagar atau yang kerap dikenal dengan hastag.

Penggunaan hastag dalam media sosial semakin banyak digunakan. Semakin banyak digunakan dan semakin banyak jenis hastag yang dipakai dalam media sosial. Media sosial sekarang yang banyak digandrungi adalah instagram. Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto yang memungkinkan pengguna mengambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial. Di instagram kita dapat mengakses berbagai macam hastag.

2. Rumusan Masalah

Melihat latar belakang diatas, rumusan masalah dikemukakan sebagai berikut:

1. Bagaimana fenomena hastag di media sosial (khususnya di instagram) ?

2. Bagaimana pengaruh atau efek hastag didalam kehidupan?



BAB II



PEMBAHASAN

1. Pengertian hashtag

Hashtag; Bagi Anda pengguna layanan jejaring sosial, bisa jadi penggunaan fitur ini pada suatu pos sudah sering Anda lakukan dan bahkan bisa jadi pula Anda sering menggunakan hashtag dengan maksud untuk menyatakan perasaan tertentu atau topik tertentu terkait dengan pos atau kiriman yang Anda buat. Merujuk pada beberapa referensi, hashtag dapat didefinisikan sebagai kata atau frasa (tanpa spasi) yang diawali dengan tanda tagar (simbol #) yang diletakkan di awal kata atau frasa tertentu yang diketikkan pada jejaring sosial. Dalam hal ini sebagai contoh hashtag misalnya yaitu, #trend, #responsive, #fashion, #masakan, dan lain sejenisnya.

Secara prinsip penggunaan hashtag dapat dilakukan dengan cara mengetiknya di bagian mana saja dalam teks pada pos atau kiriman yang dibuat. Pada dasarnya hashtag sendiri digunakan untuk menandai kata kunci atau topik terkait dengan pos atau kiriman yang dibuat. Hashtag menyediakan cara untuk mengelompokkan pesan yang dapat membantu orang lain dalam menemukan pos atau kiriman terkait dengan topik tertentu, sehingga akhirnya secara tidak langsung penggunaan hashtag dalam pos juga dapat membantu orang lain untuk bergabung dalam percakapan tentang topik yang dimaksud.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa pemakaian hashtag dapat diibaratkan seperti halnya pemakaian label tertentu pada postingan blog yang dimaksudkan untuk menandai berbagai postingan sesuai dengan katagorinya masing-masing. Dimana apabila salah satu label pos itu diklik, maka secara otomatis akan ditampilkan postingan artikel yang memiliki topik sejenis. Perlu diingat bahwa tidak semua pengguna internet atau pengguna layanan jejaring sosial menggunakan mesin telusur yang ada guna menemukan informasi sesuai dengan yang dikehendaki. Sebagian dari mereka bisa saja lebih suka memanfaatkan hashtag untuk mencari dan menemukan informasi terkait dengan topik yang diinginkan, atau memanfaatkan hashtag guna mencari dan menemukan informasi terkait dengan topik yang sedang menjadi trend.

Oleh sebab itulah pemakaian hashtag untuk menandai pos atau kiriman tertentu yang dibuat pada layanan jejaring sosial sangat disarankan, karena dengan begitu maka secara tidak langsung akan memberikan dampak yang sangat positif terhadap pos atau kiriman itu sendiri. Kenapa demikian? Karena apabila pos yang ditandai dengan hashtag tersebut dikirim secara publik, maka secara otomatis pos tersebut juga akan ditampilkan kepada orang lain yang melakukan penelusuran dengan memanfaatkan hashtag yang sesuai. Sehingga pemakaian hastag untuk menandai pos atau kiriman yang dibuat pun secara tidak langsung dapat berimbas pada meningkatnya traffic, karena pengguna tidak hanya dapat menemukan postingan Anda melalui mesin telusur namun juga dapat menemukannya dengan mudah melalui pemanfaatan hashtag yang tersedia pada berbagai layanan jejaring sosial.

2. Instagram 

Instagram sama seperti jejaring sosial lainnya, namun lebih fokus kepada foto atau pengeditan foto. “Instagram adalah jejaring sosial yang dapat digunakan sebagai salah satu wadah penyaluran bagi orang – orang yang memiliki minat tentang foto.” Positifnya ialah bisa membantu bagi yang senang mengabadikan moment / peristiwa di sekelilingnya melalui foto, juga dapat menuangkan ide kreatif melalui foto atau mungkin sebagai media promosi dan informasi. Karena mengandalkan media visual tentu akan sangat bermanfaat dalam mencari suatu informasi. Namun tak dapat dipungkiri program satu ini juga bikin kecanduan. Terutama remaja.

Pengguna Instagram sendiri sudah tersebar diseluruh dunia, dengan demikian banyak fenomena-fenomena yang muncul, seperti fenomena yang muncul di Instagram sebagai sebuah gaya foto yang menjadi trend dan kemudian tidak sedikit masyarakat Indonesia pun mengikutinya, seperti trend “Selfie” yaitu trend memotret diri sediri dengan menggunakan self camera atau kamera depan gadget yang digunakan, dan kemudian banyak dari pengguna-pengguna Instagram mencari dan menemukan trend foto baru agar dapat diikuti oleh pengguna Instagram lainnya, tak terkecuali akun dari Instagram sendiri yang setiap pekannya memberikan sebuah tema foto dan memberikan hashtag khusus agar pengguna Instagram mengikuti trend yang Instagram berikan dan Instagram pun menawarkan me-reupload foto pengguna terpilih dan me-featured user sebagai pengguna yang direkomendasikan oleh Instagram untuk di follow.

Dengan fenomena-fenomena seperti itu mempengaruhi pola piker masyarakat pengguna Instagram sendiri yang berlomba-lomba untuk meng-upload foto terbaik mereka atas dasar kepuasan batin atau bersosialisasi sesama pengguna atau untuk mendapatkan featured dari akun Instagram atau untuk mengikuti trend yang sedang hits di kalangan pengguna Instagram dunia ataupun motivasi-motivasi pengguna lainnya yang memberikan rasa penasaran kepada saya untuk meneliti lebih lanjut mengenai perilaku pengguna sosial media Instagram yang konsep dasarnya bersosialisasi menggunakan sebuah akun untuk berbagi foto.



Dari perubahan pola pikir tersebut dapat menjadi sebuah ketergantungan terhadap sebuah media tertentu, seperti yang ada dalam Teori Ketergantungan. Teori ini menyatakan bahwa semakin seseorang tergantung pada suatu media, untuk memenuhi kebutuhannya ,maka media tersebut akan menjadi semakin penting atu perkasa untuk orang tersebut. Beberapa orang yang berlomba - lomba untuk menghasilkan foto terbaik kemudian mengupload foto tersebut di instagram kemudian tidak lupa memberi tagar untuk mendapatkan kesempatan untuk di featured didalam akun pembuat hashtag tersebut.

Namun dibalik sebuah ketergantungan tersebut, ada pembelajaran yang kita dapat. Seperti yang ada di Teori Pembelajaran Sosial yaitu, pengguna meniru apa yang mereka lihat dari instagram,melalui suatu proses pembelajaran sosial tersebut. Hasil dari pembelajran tersebut dijadikan ilmu. Pembelajaran disini adalah penggunan melihat hasil foto yang bagus, kemudian ingin meniru dan akhirnya mulai berfikir bagaimana untuk menghasilkan suatu hasil foto yang memiliki nilai seperti apa yang dicontoh.

Moderate Effect

Inti dari perspektif ini adalah gagasan mengenai khalayak aktif yang menggunakan isi media untuk menciptakan pengalaman (Bryant & Street, 1988). Perspektif Moderat Effect menyatakan pentingnya pengaruh media dapat terjadi pada masa yang lebih lama sebagai sebuah akibat langsung dari khalayak. Khalayak dapat membuat media menyajikan tujuan pasti, seperti menggunakan media untuk mempelajari informasi dan memperoleh pengalaman.

Perspektif ini adalah kelanjutan dari teori Limited Effect yang menekankan adanya selektivitas yang dilakukan khalayak dalam mengkonsumsi media. Perspektif ini membahas tentang selective exposure, yaitu suatu kecenderungan untuk memilih komunikasi yang akan menegaskan pendapat, sikap, dan nilai-nilai diri sendiri. Orang cenderung menyukai dan mencari orang-orang yang kepercayaan, sikap, dan nilai-nilainya serupa dengan dirinya, dan tidak menyukai serta menghindari orang-orang yang dipandang berbeda dalam hal-hal ini (Tubbs & Moss, 2000, hlm.209-210).

Peneliti mulai menguji bagaimana orang-orang menginterpretaikan pesan secara berbeda melalui selective attention, sellective perception, dan selective retention. Ini berarti para peneliti mulai menguji pesan seperti apa yang menarik orang-orang, mengapa orang-orang memiliki interpretasi yang berbeda-beda pada pesan yang sama, dan mengapa orang mengingat hal-hal yang berbeda-beda dari sebuah pesan (Baldwin, Perry & Moffitt, 2004, hlm.195).



BAB III

Kesimpulan

Dalam penggunaan hashtag di media sosial, masyarakat bebas menggunakan hashtag yang akan digunakan sesuai postingan mereka. Biasanya penggunaan hashtag dikarenakan adanya beberapa motif, seperti ingin lebih menyebar luaskan apa yang diposting atau ingin agar postingan tersebut di featured (di instagram). Hal ini juga membuat orang memiliki rasa ketergantungan terhadap sebuah aktifitas. Namun aktifitas itu membuahkan hasil positif atau menjadikan orang lebih kreatif.

Penyebaran pesan di instagram terbukti cukup ampuh melalui tagar atau hashtag. Selain masyarakat luas dapat mengakses, hal ini lebih memudahkan untuk pengelompokan pesan yang ada dari foto yang di upload. Dampak negatif dari sosial media yang salah satunya instagram ini adalah masyarakat malas untuk bersosialiasi. Namun dampak negatif tersebut tidak sepenuhnya terjadi, karena ada beberapa komunitas yang terbentuk karena adanya dari instagram.



DAFTAR PUSTAKA

Baldwin, John R; Stephen D.P; Mary A.M. (2004). Communication Theories for Everyday Life. United States of America: Pearson Education, Inc:.

Littlejohn, Stephen W; Karen A.F. (2005). Theories of Human Communication. Thomson.

Tubbs, Stewart L; Sylvia M. (2000). Human Communication: konteks-konteks komunikasi, buku 2, terjemahan: Deddy Mulyana. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

1 komentar:

  1. Sertakan literatur pada pembahasan (konsep hastag dan instagram ) jadi jelas itu mengambil pengertian dari mana
    bisa disertakan capture instagram yang menggunakan hastag
    Berikan contoh kasus fenomena dampak penggunaan hastag pada instagram (dampak positif dan negatif)

    BalasHapus